#2019GantiStatus atau #2019Nikah?

2019 Ganti Status atau 2019 Nikah

Pendapatku di tulisan ini bisa jadi salah. Mungkin aku terlalu lebay.

Tapi insyaAllah tetep ada pelajaran yang bisa diambil.

Mau setuju, boleh. Mau nggak setuju, boleh juga.

Kalau mau sekalian mengkoreksi, boleh juga. Silahkan.

Terkait menikah, banyak yang menasehati, “Hati-hati lah dengan niat. Jaga niat, bahwa menikah itu untuk ibadah, bukan untuk yang lain-lain. Kalau untuk yang selain ibadah, waspada justru bakal jadi masalah yang bikin tambah stress.”

Dan kebetulan itu bukan teori, itu fakta yang sudah banyak terjadi di sekitar kita. Dan sayangnya, fakta itu banyak.

Lihat lah betapa pilunya kantor pengadilan agama sering ramai.

“Ha? Apa? Maksudnya? Emang kenapa Kantor Pengadilan agama? Ada apa?”

Banyak fakta kasus gugatan cerai di sana. Kalau nggak percaya, coba aja datang ke sana, tanya satu per satu masalah mereka apa kenapa datang ke situ.

Memang sih sejatinya itu qadha Allah. Tapi paling nggak kita bahas apa-apa yang ada di lingkaran yang kita kuasai saja. Nah, bisa jadi, problem perceraian dan banyak problem lainnya dalam Rumah Tangga itu, salah satunya diakibatkan karena salah niat ketika menikah.

Nikah itu untuk apa?

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Don’t marry because you are getting Old. Don’t marry because of your age. Don’t marry because you are Lonely. Don’t marry because you need someone to support you Financially _ Don’t marry because you mistakenly got Pregnant for him. Don’t marry because you don’t want to lose the Person. Don’t marry because of family Pressures. Don’t marry because you like the Idea of Marriage _ Don’t marry because of Pity or out of Pity. Don’t marry because of Tribe. Don’t marry because you admire of wedding Gown you see. Don’t marry because you love kids _ Don’t marry because all your friends are getting Married. Don’t marry because of Physical/ Academic Qualifications. _ But, marry because you are ready to complete half our your Deen and the Sunnah of the Prophet SAW _ I pray to Allah Almighty to give the best life partner to as many who truly desire to marry with the right motives in Allah SWT Ameen _ #BungaErlita #SharingWithBungaErlita

Sebuah kiriman dibagikan oleh Konselor Keluarga Muslim (@bungaerlita) pada

Dari renungan di atas, sepertinya saya jadi mulai kurang suka dengan istilah #2019GantiStatus. Meski memang sebelumnya saya beberapa kali pernah menggunakan istilah tersebut.

Kenapa nggak suka? Karena, seolah-olah sekadar ganti status itu yang jadi goal-nya. Sekadar ganti status. Tanpa memperhatikan esensi, implikasi, dan goal setelah itu apa? Apa?

Misalnya, (mohon maaf) kalau bicara soal nikah, yang lebih dominan muncul di pikiran adalah jalan-jalan berdua, foto-foto kemudian di-upload di socmed; dibandingkan rasa takut:

  • “Bagaimana kalau aku tak bisa memeliharanya dari Api Neraka?”
  • “Bagaimana kalau aku yang masih banyak maksiat ini justru menyeretnya ke Api Neraka?”
  • “Bukan kah calon pasangan kita itu ingin reuni dengan orang-orang yang ia cintai di Surga kelak? Kalau sementara kita masih buruk, bagaimana kalau seandainya diri kita menjadi faktor penyebab gagalnya ia reuni dengan orang yang-orang yang dicintainya?”

Meskipun bukan berarti rasa takut itu bikin jadi nggak nikah yaa. Cuman biar hati-hati ajaa. Yang namanya kerjaan apa pun pasti lah ada resikonya yang kadang rasanya menakutkan. Kayak sholat, bisa jadi riya’. Dakwah, bisa jadi dicela. Tapi bahas resiko itu biar hati-hati aja, bukan buat menggembosi terus nggak jadi.

….

Aslinya, nikah itu kan ibadah. Fakta aktivitas ibadah itu, adalah melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi apa-apa yang dilarang Allah. Bahkan yang mubah pun; seperlunya saja, jangan berlebihan.

Nah, amat disayangkan kalau ternyata justru fakta aktivitas #2019GantiStatus tersebut bukan ibadah. Bahkan dimulai dari sebelum menikah, ketika menikah, dan setelah menikah; banyak hal-hal maksiat yang dilakukan.

Jangankan maksiat, kalau hal-hal mubah yang berlebihan di luar keperluan saja, rasa-rasanya kurang bisa disebut “ibadah” (kalau tidak mau dikatakan “bukan ibadah”). Meski tentu secara hukum syara’, kalau memang mubah, yah mubah saja, nggak mesti ditinggalkan. Tapi poin pentingnya, jangan sampai yang mubah itu jadi wasilah yang wajib ditinggalkan dan yang haram jadi dilakukan.

Makanya aku jadi berpikir, kayaknya mending nggak usah pakai istilah #2019GantiStatus. Cukup #2019Nikah, itu sudah cukup bagus. Atau bisa lebih bagus lagi #2019NikahIbadahMakinJoss #2019NikahDakwahMakinJoss #2019Nikah2039RomaTakluk. ‘Kan kerenan gitu…

Begitulah…

Nah maksudku, ini lah pendapatku yang bisa jadi salah, belum tentu betul. Bisa jadi sebenarnya istilah #2019GantiStatus itu nggak ada masalah sih, boleh-boleh aja dipakai.

Akunya aja yang terlalu lebay kayak ngelarang-larang.

Pun soal kalau mau rajin jalan-jalan dan upload foto-foto ke sosmed sebenarnya juga mubah-mubah aja. Malah justru nyenengin pasangan memang bisa jadi berpahala. Dan itu fitrah, normal, wajar; sebagai suami-istri. Asal jangan lupa prioritas aja, itu yang kukhawatirkan.