12 Cara Meringkas Durasi Marah & Emosi Tingkat Tinggi Agar Segera Normal Kembali (Cooling Down Acceleration)

12 Cara Meringkas Durasi Marah & Emosi Tingkat Tinggi Agar Segera Normal Kembali (Cooling Down Acceleration)

Ternyata susah juga, istqamah sabar itu.

Ku akui, aku belum istiqamah sabar.

Masih bisa terpancing emosi. Kesal, marah.

Mungkin karena faktor masih muda?

Atau memang faktor manusia normal yang punya ego, punya naluri mempertahankan eksistensi diri (gharizah baqa).

Tapi alhamdulillah, kalau aku coba ukur diri, sudah ada lumayan peningkatan.

Setidaknya, dari sisi cool down time.

(Walau jelas lah masih jauh dibandingkan yang lain-lain yang sudah lebih istiqamah.)

Cool down time itu apa?

Ini istilah bikin-bikinan saya aja.

Cool down time itu, merupakan durasi waktu seberapa lama durasi emosi, marah, kesal; dan sebagainya, hingga akhirnya menjadi tenang seperti normal. Hingga bahkan bisa merelakan, mengikhlaskan, dan memaafkan.

Kalau dulu-dulu, zaman-zaman ABG, masih SMP, masih SMA; malah bisa berlarut-larut.

Tapi kalau sekarang, alhamdulillah, mungkin hanya sekitar 3-4 jam. Atau bisa 5 jam. Tergantung kasusnya gimana. Yang paling maksimal itu mungkin 2 hari. Itu maksimal banget, kalau memang kejadiannya amat-sangat perih, amat-sangat menyakitkan hati.

Seingatku, kayaknya nggak ada lagi yang sampai 3 hari.

Terus, gimana caranya agar lebih memperingkas cooling down time kita?

Setidaknya ada 12 cara.

12 cara ini insyaAllah sudah saya praktekkan (hampir) semua. Setidaknya 90%-95%. Jadi ini bukan teori doang. Walau judulnya pakai ‘bumbu’ copywriting, tapi asli ini sudah saya praktekkan.

1. Proaktif

Proaktif itu, menunda respon.

Kebalikan dari “reaktif”.

Tidak mesti setiap terjadi sebuah kejadian, otomatis di detik itu juga kita mengluarkan kata-kata untuk menanggapi. Atau bahkan di dalam kepala sudah siap-siap ingin ‘nyembur’.

Tahan dulu.

Tunda dulu responnya.

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Saya sengaja memilih istilah “proaktif”, karena ini merupakan judul pada bab pertama di suatu buku yang sudah cukup populer. Yaps, Buku “7 Habits of Highly Effective People”-nya Sir Stephen Covey.

2. Ganti posisi

Kalau ini, jelas cukup populer juga dalilnya.

Dalilnya, hadits Rasul. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud)

3. Jangan kelamaan menyendiri, bergaul lah

Ini juga yang sering beberapa kali jadi titik awal perubahan saya saat cukup lama sedang merasa kesal.

Lumayan bisa ‘terdorong’ untuk menjadi good mood, saat kebetulan menghadiri pertemuan rutin. Ntah itu rapat, kajian, koordinasi, dll.

Kalau sebelum-sebelumnya? Karena sendirian, jadi melamun; maka bisa menjadi semakin parah.

Apalagi memang syaithan lebih gampang menggoda kalau kita sedang sendirian.

Terlebih lagi, memang ngumpulnya itu ngumpul yang berkualitas. Ketemu orang-orang sholeh, pandai memotivasi, positif, dan membuat nyaman.

4. Miliki komunitas positif

Poin nomor 4 ini agak serupa dengan poin nomor 3 sebelumnya.

Tapi, kalau sebelumnya itu lebih ke jangan menyendirinya, maka di poin ini, lebih dijelaskan lagi bahwa kalau pun ngumpul-ngumpul itu jangan sekadar ngumpul-ngumpul.

Ngumpul-ngumpulnya harus bareng  orang-orang yang bagus juga. Karena kalau bareng orang-orang yang nggak bagus, bisa jadi malah tambah parah.

5. Punya teladan (role-model) orang di depan mata kita, yang kesabarannya benar-benar tingkat tinggi

Ini juga merupakan satu titik balik yang amat-sangat berpengaruh.

Dari yang sebelumnya selalu gagal sabar, gagal, gagal, dan gagal.

Selalu emosi, emosi, dan emosi.

Tapi kemudian alhamdulillah sudah bisa lebih berhasil dan tahan emosi, saat saya lihat di depan mata kepala saya sendiri, orang yang mengalami suatu kejadian yang kalau seandainya saya jadi diri dia pasti saya akan sangat kesal. Namun, ternyata orang tersebut tetap sabar, tenang, menyikapi dengan bijak, masyaAllah…. 😭😭😭

Kalau boleh agak lebay, mungkin itu pertama kalinya saya lihat orang seperti itu…

Di depan mata saya lho, bukan cerita, bukan film, bukan Sejarah.

Dan tentunya, kesabaran beliau itu bukan hanya dipraktekkan sekali-dua kali saja. Melainkan sudah berhasil beberapa kali.

Bahkan saat saya ngobrol sama teman saya lainnya, teman saya ini mengakui kehebatan beliau tadi, bahwa: “Bersyukur lah kita punya leader seperti beliau, luar biasa sabarnya. Belum tentu ada orang lain yang bisa kayak begitu.”

Secara pikiran bawah sadar, saya nggak sengaja mengatakan dalam hati, “Aku mau jadi orang kayak beliau…”. Walau pun sampai detik ini saya masih belum berhasil….

6. Ingat aqidah Islam (Termasuk ingat mati)

Intinya, aqidah Islam ini berupa pandangan-pandangan terhadap pertanyaan:

  • Darimana asal-muasal manusia, alam semesta, dan kehidupan?
  • Untuk apa hidup di dunia ini?
  • Akan ke mana seusai hidup?

Selengkapnya sudah pernah dibahas di Teknik Hidup, di silahkan baca di sini bagi Anda belum baca atau udah lupa.

Kita ringkas saja, saya ingin menyoroti satu hal, yaitu mengingat mati.

Rasa-rasanya aneh, kalau mati dalam keadaan emosi sedang negatif.

Anda mau nggak gitu?

Saya sih nggak mau.

Kalau udah mati, selesai kehidupan Broo.

Kalau udah bicara udah dekat dengan mati, rasa-rasanya jadi males memuaskan ego.

Rasa-rasanya, mendadak pingin bilang “Ah sudah lah, nggak penting itu… Yang penting semoga di Akhirat aku selamat.. Kalau gitu fokus kerjain yang lain aja…”.

Padahal, sebelumnya, masih bebal. Tapi karena ngingat mati, jadi lumayan bisa mereda kan?

7. Cari dan lihat fakta positif di sisi lain (Kalau bisa, usahakan bukan sekadar berprasangka positif yaa, tapi memang lihat FAKTA positif)

Di balik kesulitan, ada kemudahan.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Coba lah jeli lihat sisi lain, pasti ada sisi positifnya.

Tapi kalau bisa usahakan cari dan sadari fakta positifnya, bukan sekadar positive thinking dalam bentuk berprasangka gitu.

Ini bukan sekadar buat hiburan doang yaa. Tapi memang real, asli, ada fakta sisi positifnya.

I know it won’t easy.

Even, it was too hard…

Extremely hard…..

Kalau di saya pribadi, setidaknya pada beberapa kasus terbaru, setidaknya dari hal-hal yang sangat merugikan dan mengesalkan yang saya alami; saya menjadi lebih melek dalam membuat sistem kerja. Jadi bisa melakukan hal-hal antisipasi dan preventif tertentu. Agar tidak terjadi kebocoran.

Yang seandainya hal merugikan dan mengesalkan itu tidak terjadi, bisa-bisa akan mengakibatkan kebocoran dan error yang lebih besar ke depannya.

Karena memang jika tidak ada perbaikan dini, maka sistem kerja yang saya buat tersebut masih lemah, tidak kuat.

Ini berharga banget lho. Justru harus disyukuri.

Bahkan, mestinya rasa kesalnya otomatis hilang, karena ternyata di balik hal mengesalkan itu ada kemasalahatan. :’)

8. Bobok

Ini cara lawas dan mudah saya yang cukup efektif. Sampai sekarang, masih works.

Lagi emosi banget…

Yaudah, bobok aja…

Pas bangun, jadi normal kembali.

Bahkan justru jadi menyesal, “Aduh, ngapain kemarin/tadi aku begitu yaa… Astaghfirullah…”.

9. Hadiri kajian (atau minimal tonton YouTube) 

Ini juga ampuh. Bahkan bisa jadi semacam rem.

Kita itu kayak kendaraan juga, ada saatnya ‘injak gas’, ada saatnya ‘ngerem’.

Mungkin masih berkaitan juga dengan poin nomor 3, 4, dan 6: jangan menyendiri, miliki komunitas positif, dan ingat aqidah Islam.

Bahkan, ada lebih banyak lagi materi-materi yang bisa mengubah mindset kita. Karena memang intinya di mindset kita itu.

10.Cari hiburan

Ini yang paling populer sering dibahas. Cari hiburan itu bisa seperti sekadar makan-minum cemilan, nonton, jalan-jalan, dan lain-lain.

Ini juga cukup efektif memicu hormon yang bisa berdampak positif. Sehingga lumayan bisa membantu menormalkan kondisi emosi.

Kalau di saya pribadi sih, suka cari video lucu dan film humor.

Tapi jangan lupa tips lainnya yang justru lebih prioritas yaa.

11. Jangan Lupa, Ingat, masih banyak lagi yang mesti dikerjain

Ini merupakan closing di ujung emosi.

Merupakan titik balik juga, detik-detik pergeseran dari garis-garis emosi, menujuk titik di garis-garis normal kembali.

Detik-detik cooling down terakhir.

Ini yang membuat saya akhirnya menatap ke depan lagi, nggak mau menatap ke belakang lagi….

(Ciyee elah aduh keren banget ya kalimatnya. 😂 Atau sok keren sih wkwkwk 🤣🤣🤣)

Tapi memang, iya…. Masih banyak kerjaan-kerjaan lain mesti dikerjakan.

Target-target yang sudah ditentukan, cita-cita yang berlum diwujudkan, janji-janji yang belum ditunaikan, masalah-masalah orang lain yang jauh lebih parah dari masalah kita yang mesti dibantu, dan sebagainya.

Belum lagi kita bahas orang lain yang lebih banyak dan lebih parah masalahnya. Misalnya saudara-saudara muslim kita di luar sana, di Suriah, di Palestin, dll.

I’ve got to get back to work. 

12. Tertempa otomatis karena sudah semakin sering disakiti/dibebani

Ah, ini yang paling keren. 😀

Karena sudah beberapa kali salah-salah, jatuh-jatuh, sakit-sakit; lama-kelamaan jadi nggak terlalu sakit.

Khususnya, kalau masalahnya itu masalah yang sama dengan yang sebelumnya.

Walaupun memang itu masalahnya berat dan perih banget, baru pertama kali kita merasakan keberatan dan keperihan seperti itu. Ugh, perih sekali… Ini bukan lebay yaa, tapi asli memang perih sekali rasanya…. 😰

Tapi, karena sudah beberapa kali kejadian begitu, jadinya tidak seperih di awal.

Atau, paling nggak, masalah-masalah lain sebelumnya itu menjadi terasa lebih ringan. Ternyata masih ada lagi yang jauh lebih berat. Ternyata masih ‘belum ada apa-apanya’, nggak seberat masalah yang terbaru lebih berat ini.

Selaras seperti yang pernah dijelaskan Mas J di Buku The Power of Kepepet.

Kalau otot dilatih dengan beban, maka otak dilatih dengan masalah.

….

Yaaaaahh, setidaknyaa, begitu laaaah. 😄

Semoga bermafaat ya.

Mohon maaf kalau saya ada salah-salah kata.

Wallahua’lam bishshawab.


Credits featured image from https://medium.com/@danritz/the-angry-happy-spectrum-of-product-design-29e7103d657b