5 Inkonsistensi Argumen Pada Para Penolak Khilafah

Featured Image from: https://www.quotemaster.org/Inconsistent

“Sebenarnya mencari-cari alasan buat menolak khilafah itu jauh lebih ribet & repot, dibandingkan menjelaskan khilafah apa adanya saja.”

Begitu kurang-lebih nasehat dari seorang guru kami.

Dan ternyata, nasehat beliau itu benar adanya. Pas, sesuai banget dengan kenyataannya.

Mereka yang sedari dulu menolak khilafah, kerap melontarkan berbagai macam argumen. Namun, sayangnya argumentasinya banyak yang tidak konsisten.

Kalau kata guru saya yang lainnya lagi, kurang-lebih:

“Terkadang ‘Alasan’ itu bisa ada seribu. Tapi sebab itu bisa ada hanya satu. Maka carilah sebab, jangan cari ‘alasan’.”

‘Alasan’ dalam tanda kutip ya, maksudnya ‘alasan’ dalam artian ngeles. Excuse gitu.

Nah, apa aja sih alasan-alasan para penolak khilafah itu, yang notabene banyak inkonsistensinya? Berikut ini beberapa di antaranya.

1. “Khilafah Itu Utopis, Percuma Diperjuangkan, Tidak Akan Bisa Ditegakkan”

Kalau argumen soal “Opini ajakan penerapan khilafah itu tidak perlu digubris! Dicuekin aja! Karena memang tidak akan bisa diwujudkan!” merupakan argumen yang agak jadul memang.

Mungkin, ini agak populer di sekitar awal-awal tahun 2000an hingga 2010an.

Tapi, lucunya, tiba-tiba argumen mereka berubah lagi. Sekarang, mereka menganggap; bahwa khilafah itu ternyata bisa tegak. Bukan utopis. Namun, khilafah itu adalah sesuatu yang buruk, yang bisa mengancam.

Maka dari itu, mereka berusaha sekuat tenaga menghalang-halangi opini tentang khilafah. Penegakan khilafah harus dicegah.

Padahal, kalau memang khilafah itu utopis dan tak akan bisa tegak; ngapain capek-capek dihalangin? Kenapa mesti dicegah?

Mestinya, dibiarkan saja. Karena orang-orang yang berusaha menegakkan khilafah itu tidak akan berhasil, tidak akan terwujud, sehingga tidak akan bisa mengancam.

Jadi, yang benar yang mana? Khilafah itu utopis tidak akan bisa terwujud? Atau khilafah itu potensial bisa terwujud, sehingga harus berusaha dicegah dan dihalang-halangi?

2. “Rasul Tidak Pernah Mendirikan dan Mengajarkan Negara Islam, Negara Islam Itu Tidak Pernah Ada”

Sejatinya, ketika Rasulullah dibai’at di Madinah, sejatinya beliau posisinya itu sebagai kepala negara. Karena, sejak sudah hijrah ke Madinah; Rasulullah ﷺ dan kaum muslim selanjutnya baru melakukan aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan oleh negara; yang notabene tidak bisa dilakukan oleh individu, jamaah, dan swasta.

Seperti adanya kas baitul maal, pengelolaan sumber daya alam, pemberian tenaga pengajar kepada umat muslim secara umum, pemberian tenaga medis kepada umat muslim secara umum, pembentukan pasukan jihad, penerapan pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku kriminal, mengambil alih tanah yang terlantar, menegur pihak yang tidak membayar zakat, menerima jizyah; ‘usyr; kharaj, dan lain-lain.

Sementara itu, para penolak khilafah itu dulu sempat mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ dan para sahabat waktu itu tidak memiliki Negara. Di Madinah itu, hanyalah wilayah kecil, seperti kecamatan, dan sebagainya. Madinah itu bukan negara.

Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan adanya negara Islam. Sehingga tidak perlu ada upaya pengadaan negara Islam yakni khilafah.

Namun, lucunya, beberapa saat kemudian, akhirnya mereka mengatakan bahwa memang ada yang namanya negara Islam. Misalnya, ketika menjelang pilkada, ada calon kepala daerah yang kafir yang notabene kalau dalam pandangan Islam; orang kafir tidak boleh hukumnya dia menjadi pemimpin kepala derah sehingga menguasai kaum muslim. Tiba-tiba, mereka mengatakan, bahwa boleh kok orang kafir menjadi pemimpin. Karena, dulu di Negara Islam Khilafah itu ada orang kafir yang berkuasa menjadi kepala daerah juga.

Loh? Jadi yang benar yang mana? Negara Islam itu dulu ada atau nggak? Tadi katanya Negara Islam itu tidak ada? Sekarang katanya Negara Islam itu ada, dan dulu di Negara Islam itu ada pemimpin kafir?

3. “Khilafah Memang Pasti Tegak, Tapi Bukan di Indonesia, Karena Tidak Cocok & Tertolak di Indonesia”

Lah, malah berubah lagi.

Tadi katanya khilafah itu utopis. Terus khilafah itu tidak ada. Sekarang katanya khilafah itu bisa terwujud dan dulu memang ada dalam bentuk negara Islam, tapi tidak bisa tegak di Indonesia sehingga tidak perlu didakwahkan di Indonesia. Biarkan saja nanti Khilafah tegak di negeri lain di luar Indonesia, karena Indonesia tidak cocok dengan Khilafah.

Jadi yang bener yang mana? Khilafah itu utopis? Negara Islam itu tidak ada? Atau Khilafah itu bukan utopis dan memang ada ajaran Islam tentang pengaturan negara, namun tegaknya tidak boleh dan tidak bisa di Indonesia?

4. “Indonesia Ini Sudah Khilafah Kok”

Nah, yang ini jauh lebih lucu lagi. Wkwkwkwk.

Mohon maaf mohon maaf, ini saya bukannya tidak sopan dan malah sekadar guyon serta menertawakan yaa. Ini saya tertawa karena memang lucu. Bukan seperti sebagian stand up comedy yang mengarang cerita fiksi yang lucu. Tapi lebih ke seperti kebetulan lewat dan memang ada kejadian lucu, makanya saya tertawa. Bukan menertawakan.

Soalnya memang lucu sih… hehehe.. Tadi katanya khilafah itu utopis, Islam tidak mengajarkan tentang mendirikan negara Islam karena memang Rasulullah ﷺ dan para sahabat itu tidak mendirikan negara, terus Khilafah bisa tegak tapi di luar Indonesia. Lah sekarang berubah lagi, jadinya Indonesia ini sudah khilafah.

Mereka katakan, Indonesia sudah menerapkan syariah Islam secara kaffah. Sistem yang diterapkan di Indonesia ini sudah khilafah. Karena khilafah itu artinya negara secara umum. Tidak ada bentuk baku sistem pemerintahannya. Bisa berupa republik, kerajaan, dan lain-lain. Jadi meski di Indonesia ini secara normatif sistemnya republik, demokrasi; maka dia tetep bisa dikatakan bahwa Indonesia ini sudah khilafah.

Loh? Jadi yang benar yang mana sih? Bingung saya.

Malah dulu katanya, jangan bawa-bawa agama ke urusan politik. Tapi sekarang katanya urusan politik hari ini sudah sejalan dan menerapkan agama.

By the way, kalau Indonesia ini sudah khilafah, politiknya sudah sesuai Islam; berarti seluruh rakyat Indonesia itu radikal dong?

Kan kata sebagian orang, ciri radikalisme itu adalah jika menerima dan ingin menerapkan Islam politik seperti khilafah. Meskipun definisi radikalisme itu sendiri masih sangat banyak, tidak ada yang baku dan bisa dijadikan standard.

Ayo dong gimana ini… Yang benar yang mana… Khilafah itu terlarang? Atau tidak terlarang, tapi tidak perlu dibahas lagi, karena sistem khilafah tidak baku, dan Indonesia ini sudah termasuk khilafah? Atau mau balik lagi, jangan bahas-bahas dan bawa-bawa agama ke politik?

Jangan berubah-ubah gitu ah, pusing kita. Pusing banget.

5. “Khilafah Itu Memang Ada, Memang Ajaran Islam, Memang Wajib, Memang Ada Dibahas di Banyak Kitab; Tapi Bukan Khilafah Ala HTI

Nah ini alasan yang mungkin agak sedikit fresh di beberapa tahun terakhir. Lagu baru lagi, hehehe.

Berarti, pendapat-pendapat sebelum-sebelumnya itu nggak jadi nih? Yang soal khilafah itu utopis, khilafah tidak wajib, khilafah itu ancaman, khilafah tidak ada bentuk bakunya?

Berarti khilafah itu memang dulu ada, memang memungkinkan diwujudkan, memang ajaran Islam, dan memang ada dibahas di berbagai kitab mu’tabar, dan memang hukumnya wajib ada; tapi bukan khilafah ala HTI?

Emangnya, khilafah ala HTI itu yang bagaimana?

Khilafah yaa khilafah, nggak ada ala-alaan.

Terus, kalau begitu khilafah yang non-HTI itu yang bagaimana?

Ternyata, mereka malah semakin menjadi aneh. Ada yang terdiam, tidak bisa menjawab bagaimana khilafah yang ala non-HTI. Ada yang menjawab, yang benar itu khilafah yang moderat.

Lah, jadi makin bingung saya. Berarti lagu-lama lama kemarin, auto-cancel dong?

  • Yang katanya Khilafah itu tidak wajib?
  • Khilafah itu berbahaya?
  • Dan khilafah macem-macem?

Berarti sekarang yang benar adalah:

  • Khilafah itu wajib, tapi khilafah ala moderat?
  • Khilafah itu janji Allah, tapi khilafah yang ala moderat?
  • Khilafah itu tidak berbahaya, justru baik untuk umat manusia, tapi khilafah yang ala moderat?
  • Pokoknya khilafah itu memang bagus diperjuangkan, tapi khilafah yang ala moderat?

Ujung-ujungnya, makna moderat itu yaa sekulerisme, liberalisme; yang sesuai oleh kepentingan asing, yang hasil dari rancangan misionaris. Yang notabene, kaum misionaris yang muncul pasca perang salib itu lah yang cukup besar kontribusinya dalam meruntuhkan khilafah utsmani terakhir di Turki itu.

Emang definisi khilafah itu apa sih? Bisa ada gitu ya, khilafah tapi ala moderat? Khilafah tapi nggak menerapkan syariah Islam, bahkan memusuhi Islam?

Ternyata, mereka yang menolak khilafah itu yaa punya kepentingan politik juga. Atau, paling nggak, dibayar oleh pihak yang punya kepentingan, atau sekadar ikut-ikutan oleh orang yang juga menolak khilafah yang notabene orang itu ‘dituakan’ dan memiliki ikatan solidaritas.

Gitu sebenarnya.

Tapi saya tetep berhusnudzon sih, semoga mereka yang menolak itu hanya karena belum paham dan salah paham saja. Sehingga, selama hati mereka bersih, niatnya ikhlas, orientasinya hanya ridha Allah; insyaAllah bisa saja berubah menjadi paham dengan baik dan benar. Kemudian mau mengatakan yang haq itu haq, dan yang bathil itu bathil.

Sebenarnya masih banyak lagi argumen para penolak khilafah itu. Bisa lebih dari lima. Kadang seolah-olah kata-katanya canggih-canggih. Apalagi kalau pembahasannya secara normatif, kayak bahas-bahas dalil dan qaul ulama gitu. Tapi yang seperti itu insyaAllah sudah ada tanggapan dan kritik baliknya dibahas oleh guru-guru kita.

Jadi sementara itu saja dulu ya. Nanti kalau misalnya ada tambahan lagi, bisa tinggal kita edit lagi aja artikel ini.