Kenapa Korupsi Nggak Selesai-Selesai? Karena Sumbernya Yaa Sistem Demokrasi Itu Sendiri

Kenapa Korupsi Nggak Selesai-Selesai? Karena Sumbernya Yaa Sistem Demokrasi Itu Sendiri

Korupsi bukanlah sekadar penyakit individual.

Terbukti, justru para pelaku korupsi bukanlah orang yang miskin.

Banyak di antara mereka, adalah orang kaya, dan memiliki kedudukan.

Suap-menyuap -sebagai bagian korupsi- pun dilakukan oleh perusahaan-perusahaa besar kepada pejabar/aparat negara.

Muncul pertanyaan: Kok bisa gitu ya?

Sejak awal, politik Demokrasi identik dengan uang.

Siapa yang ingin meraih atau mempertahankan kekuasaan, harus memiliki uang.

Tak heran, demokrasi adalah sistem politik berbiaya tinggi. Mahal.

Hanya saja, tidak semua orang yang berambisi mengambil kursi kekuasaan dan mempertahankannya memiliki cukup uang untuk itu.

Terjadilah simbiosis (kerja sama) dengan para pemillik modal. Sebagai konsekuensinya, para pemiliki modal mendapatkan berbagai ‘kue kekuasaan’ yang diwujudkan dalam wujud kebijakan dan perlindungan.

Tidak ada sesuatu yang gratis.

Dalam konteks inilah, dapat dipahami, bahwa justru sistem Demokrasi itu sendiri yang memicu terjadinya korupsi.

Terlebih lagi, demokrasi menggunakan prinsip sekulerisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Tidak ada landasan ketaqwaan.

Yang terjadi, aturan Tuhan disingkarkan ketika mereka menjalani kehidupan, kecuali saat ibadah saja. Lahirlah orang-orang munafik. Mengaku Muslim, tapi korupsi.

Dengan prinsip itu, maka menjadi wajar lah hal-hal seperti:

  • suap-menyuap
  • menyalahgunakan kekuasaan
  • gratifikasi
  • dan sejenisnnya

Dianggap tak berdosa, karena tidak boleh ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Akhirnya, prinsip ini melahirkan gaya hidup permisif, alias serba boleh.

Wajar bila mengatasi korupsi dalam sistem Demokrasi ini, menjadi sulit banget. Sulit banget.

Gimana mau dicegah, lah sementara sistemnya itu sendiri aja udah ngedorong orang buat depetin sumber-sumber kekayaan secara ilegal?

Biaya politiknya mahal, mesti ditutupi. Sementara, gaji yang didapet nggak cukup. Akhirnya, yasudah, korupsi lah.

Terus… Solusinya..?? MasyaAllah, InsyaAllah Nggak Bakal Begitu Kalau Kita Pakai Sistem Islam

Mengingat korupsi adalah persoalan sistemik, maka penanganannya pun mesti sistemik juga.

Harus.

Selama negeri tetap menerapkan sekulerisme, dengan demokrasi sebagai salah satu pilarnya, maka selamanya korupsi akan terus eksis. Dan bahkan, bisa makin canggih.

Tidak akan hilang.

Karena itu, nggak ada jalan lain, kecuali mengganti sistem tersebut dengan sistem Islam.

Dengan syariah Islam:

  • Masyarakat akan terikat dirinya dengan keimanan.
  • Pejabat, juga akan terikat dirinya dengan keimanan.
  • Birokrat pun juga, akan terikat dirinya dengan keimanan.
  • Ketaqwaan menjadi landasaran dalam setiap langkah kehidupan.
  • Nggak ada kebebasan berdasarkan hawa nafsu
  • Yang ada, adalah keterikatan dengan syariah Allah SWT.

Bisa Anda bayangkan kan? Kalau ini yang terjadi, maka kehidupan kita bakal dipenuhi keimanan!

Siapa pun dia, bakal merasa diawasi oleh Allah SWT.

Ini lah benteng pertama untuk mencegah korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Nggak cukup sampai di situ lho, Islam juga ada ngasih seperangkat aturan baut mencegah faktual, supaya para pejabat dan birokrat nggak tergiur dengan korupsi.

Caranya, dengan mencukupi kebutuhan mereka dengan layak.

Dan, pada ujungnya, Islam punya seperangkat aturan untuk menindak mereka yang korupsi agar jera.

Belum lagi kita bahas, bahwa di Islam ada larangan memberikan hadiah kepada pejabat.

Belum lagi kita bahas, bahwa pendidikan formalnya yang Islami, tidak sekuler, insyaAllah lebih bisa meningkatkan probabilitas kesholehan seseorang.

Kapan-kapan kita bahas lebih lengkap ya di artikel lain, terkait preventif dan kuratifnya. InsyaAllah.

Jangan lupa ingetin saya juga, soalnya kadang saya suka lupa, hehehe.


Refrensi: MU #250.