Sepertinya Selalu? Perbuatan Salah Kita Itu Seperti Otomatis Tercipta, Ketika dari Awal Niat Kita Emang Nggak Bener

Sepertinya Selalu? Perbuatan Salah Kita Itu Seperti Otomatis Tercipta, Ketika dari Awal Niat Kita Emang Nggak Bener

Mungkin Anda sudah sering mendapatkan materi terkait urgensi niat.

Bahkan, sebenarnya bukan hanya di Riyadush Shalihin Imam Nawawi dan kitab syarah 40 hadits pilihan dari beliau; sebenarnya banyak juga kitab-kitab lain yang menempatkan pembahasan niat di awal-awal.

Hanya saja, seperti biasa, kadang kita tidak terlalu melek akan suatu ilmu, kecuali ketika kita sudah mengalami betapa sengsaranya apabila ilmu itu tidak kita pakai ataupun betapa nikmatnya ketika kita praktekkan ilmu itu.

….

Nah, coba silahkan ingat-ingat beberapa masalah yang pernah kita alami… Tidak sedikit, kesalahan yang kita lakukan itu terjadi berawal dari niat kita yang nggak benar.

Jadi perbuatan salah itu tidak ujug-ujug muncul sendiri.

  • Salah pilih.
  • Salah ngomong.
  • Salah langkah.
  • Salah pegang.
  • Salah memutuskan.
  • Salah nulis.
  • Salah upload.
  • Salah kirim.
  • Salah chat.
  • Salah ngerespon.
  • Dan salah-salah lainnya…

Seolah-olah itu terodong otomatis kita lakukan secara pikiran bawa sadar, tatkala kita mulai pasang niat yang nggak bener.

Dan sebaliknya pula… Tatkala kita murnikan niat kita bener, ntah kenapa kadang seperti otomatis pula secara pikiran bawa sadar kita jadi lebih terarah melakukan hal-hal yang benar pula.

  • Pilihannya benar.
  • Omongannya benar.
  • Langkahnya benar.
  • Memegang yang benar.
  • Keputusannya benar.
  • Tulisannya benar.
  • Yang di-upload benar.
  • Yang dikirim benar.
  • Ngeresponnya benar.
  • Chat-nya benar.

…..

Lagi-lagi, setelah mengalami hal ini, saya jadi baru semakin sadar, “Oooooooh begini toh maksudnya niat mesti bener… Dan jangan sampai niat nggak bener… Semakin masuk akal ternyata…”

Jadi, benar lah, niat ikhlas yang benar itu sudah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan.

  • Di beberapa kasus, mungkin pasang niat yang benar itu sudah menyelesaikan 50% pekerjaan, sisanya tinggal 50% lagi menjalani proses hingga selesai.
  • Bahkan di beberapa kasus, mungkin pasang niat yang benar itu sudah menyelesaikan 99% pekerjaan, sisanya tinggal 1% lagi menjalani proses hingga selesai.
  • Sisanya baru masuk ke pembahasan strategi, sistem, teknis, tools, dan lain-lain.

Atau yang jelas, niat yang benar itu bagian dari yang harus ada agar urusan bisa kelar dengan benar.

Kalau niatnya nggak benar, yaudah, rasakan lah ‘daun-daun’ dan ‘buah-buah’ berupa kesalahan-kesalahan yang ‘seperti otomatis’ lahir tumbuh dari ‘biji’ berupa niat yang tak benar itu.

…..

Btw….. Ini kita sedang nggak bicara teori.

Ini studi kasus.

Ini kita sedang bicara pengalaman kita kemarin, bahkan pengalaman kita barusan tadi ketika kita salah ngomong, salah bikin keputusan, salah ketik, salah asal share, salah langkah, salah nulis, salah pilih, salah respon, dan salah-salah barusan lainnya yang bikin kita menyesal dan sekarang masih deg-deg-an nggak tenang.